Sebenarnya udah lama kepingin mampir ke warung kopi ini, tapi selalu kalah sama ‘yang viral’ buat dicobain. Akhirnya baru kesampaian di mudik 2026 menembus kepadatan traffic satu arah di Asia Afrika saat liburan (mana kalau salah belok kena jebakan macet lagi).
Warung Kopi Purnama berdiri sejak tahun 1930 di Jalan Alkateri Nomor 22, Braga, Bandung. Selama 96 tahun, warung ini survive dengan apa yang disajikan dan tampilannya yang lawas tapi timeless. Bahkan di antara padat dan hiruk pikuknya Jalan Asia Afrika-Braga, posisi warung yang masuk ke dalam gang jadi keuntungan sehingga warungnya tenang dan nggak berisik.
Btw, gangnya bisa dilewatin mobil dan truk barang kok, karena di sepanjang jalan banyak toko-toko yang memarkir truk di depannya. Lokasinya juga di belakang Hotel Golden Flower, jadinya cukup ramai dan ada tukang parkirnya yang mengarahkan kita melipir di sebelah mana.
Suasana
Bagian depan memang terlihat sepi, itu karena suasana yang lebih redup dan teduh. Tapi begitu masuk, baru kedengeran denting sendok piring dan hangatnya percakapan orang-orang yang mengobrol seru.
Suasana jadul pun langsung menyergap sejak langkah pertama. Meja dengan tegel motif dan kursi kayunya pun masih setia dengan model lama. Saya perhatikan layout-nya tetap mempertahankan sekat-sekat ruang dari bangunan asli, tidak dibuat plong atau terbuka luas seperti kafe kekinian. Cukup imut dan padat areanya jadi diimbau ngobrolnya nggak usah gordes (gorowok desa).
Menariknya, meski interiornya klasik ala Cina-Belanda, pengelolanya sudah mengadopsi kemudahan modern. Tersedia banyak colokan listrik dan menerima pembayaran digital. Usut punya usut, ternyata warung ini memang sudah dipegang oleh generasi ke-4 yang mungkin seumuran sama saya. Terbukti dari playlist hits 2000-an yang diputar dan punya akun Instagram yang update dan aktif.
Menu
Masih amaze deh sama warung semungiel ini mampu menawarkan menu makanan dan minuman yang banyaakk jenisnya. Zuzur aja bingung pas mau pesan, ingin ini ingin itu, tapi sayang banget bacang sapi hangat gurih kepul-kepul yang kunanti dan kubayangkan lagi kosong, zaaadd… T_T
Makanan
Menu Warung Kopi Purnama menyajikan makanan utama yang terdiri dari aneka nasi goreng, mie, soto, gado-gado, dan nasi timbel. Makanan ringan seperti aneka pisang goreng, bacang, cireng, babasoan, dan gorengan. Dan juga menu roti manis dan roti asin dengan banyak pilihan.
Kalau perut lagi kosong mending pesan banyak makanan di sini deh. Worth it banget buat dicoba semuanya. One stop place lah kalau mau sarapan, lanjut makan berat dan ngemil-ngemil sambil rumpi.
Saya pesan roti gulung smokedbeef, roti dadar sosis, dan nasi goreng Purnama. Nasi gorengnya enak dengan taste yang khas, sedikit hot tapi bukan pedas. Bumbunya meresap ke butiran nasi, condiment-nya juga lengkap sampai ada sosis gorengnya. Porsinya puas banget, tidak cocok buat kamu yang makannya cimit-cimit, pasti nggak habis karena kenyang.
Secara tekstur, rotinya enak dan isiannya melimpah. Tapi ada yang unik sih buat saya, si saus cocol yang digunakan rasanya agak “melenceng” dari ekspektasi karena mirip dengan saus lumpia yang manis gurih, menurut saya kurang nyambung dengan karakter rotinya. Eh tapi ini sih selera ya. Tanpa dicoel pun rotinya tetep enak kok dimakan polosan.
Minuman
Walau namanya warung kopi, pilihan minuman kopinya hanya ada 4 varian saja yang dua di antaranya bisa dibuat versi dingin (kopi hitam dan kopi susu), dan 1 varian kopi float yang hanya bisa disajikan dingin.
Tolong jangan dibayangkan ada menu butterscotch, caramel, atau dirtypresso lah yaaahh.
Untuk kopinya, kejutan! Rasanya memiliki tingkat keasaman (acidity) yang sangat tinggi. Setelah saya cari tahu, ternyata Kopi Purnama secara konsisten menggunakan biji kopi dari Kopi Aroma, produsen kopi legendaris di Bandung yang terkenal dengan proses penuaan biji kopinya (distock bertahun-tahun sebelum disangrai). Karakter asam yang kuat ini biasanya berasal dari jenis Arabika yang diproses secara khusus untuk mengurangi kafein namun menonjolkan aroma dan rasa buahnya.
Sejarah di Balik Nama “Purnama”
Sambil duduk di sana, saya teringat sejarah menarik yang saya baca tentang tempat ini. Ternyata, saat pertama kali didirikan pada tahun 1930 oleh Jong A Tong, kedai ini bernama Tjhiang Shong She yang artinya “Silakan Mencoba”. Jong A Tong sendiri adalah perantau keturunan Cina yang sempat menetap di Medan sebelum akhirnya memboyong keluarganya ke Bandung.
Nama “Purnama” yang kita kenal sekarang baru lahir pada tahun 1962. Gara-garanya adalah kebijakan pemerintah Orde Baru yang melarang penggunaan nama asing. Pemiliknya saat itu memilih nama “Purnama” sebagai simbol keberuntungan—berharap usaha ini akan selalu terang dan membawa hoki seperti bulan purnama yang bulat sempurna. Filosofi ini bahkan dipertegas dengan pemasangan lampu-lampu bulat tanpa penutup di dalam kedai.
Catatan penting sebelum lupa: tempat ini kurang cocok untuk WFC (Work From Cafe). Kursi dan mejanya tidak terlalu ergonomis untuk berlama-lama di depan laptop, dan areanya yang penuh membuat ruang gerak terasa terbatas. Jadi kayaknya nggak enak kalau lama-lama nongkrong laptopan. Cocoknya sih makan aja sambil ngobrol-ngobrol santai.
