Bisnis Kuliner Catatan Dapur

Belajar dari Cromboloni, Ide Kuliner Kekinian yang Populer

Masih ngomongin cromboloni, nih… kue bulat renyah viral yang masih antre-antre didapatkan di berbagai gerai bakery & pastry.

Kenapa cromboloni viral? Dalam kesempatan webinar bersama Bu Fatmah Bahalwan dari Natural Cooking Club (NCC), saya mendengar kalau Bu Fatmah dulu zaman covid bikin kue sejenis itu tapi namanya belum cromboloni. Tentu saja hal ini jadi nge-hype karena diviralkan oleh influencer lewat reels, tiktok, dll, dan terutama karena rasanya yang enak dan cocok jadi orang rela repeat order meskipun harganya tidak murah.

Bu Fatmah tentu bicara sesuai fakta dan data di lapangan. Pada bahasan Ide Kuliner Kekinian Populer, cromboloni memang jadi topik yang asyik untuk dibahas mengingat kue ini booming banget di ibu kota dengan harga 30-40 ribuan dan dijual di cafe dan bakery-bakery ternama.

Pastry jadi Langka Gara-Gara Hype Cromboloni

Pengamatan saya pribadi di pasaran, danish pastry yang jadi bahan utama cromboloni cepat menghilang dari pasaran! Bahkan di tataran distributor salah satu merek pastry instan sendiri, mereka mengakui kewalahan dengan permintaan danish pastry yang melonjak beberapa bulan belakangan ini.

Kata Bu Fatmah, menguleni dan bikin pastry sendiri tentu rasanya lebih enak dan bisa menekan harga jadi bisa dapat profit lebih besar. Karena pastry instan itu memang harganya cukup tinggi sehingga jelas akan meningkatkan harga jual ke konsumen juga.

Mencari mentega korsvet lebih mudah juga daripada cari pastry instan saat ini. Apalagi untuk daerah timur, pengiriman pastry instan pasti tidak aman. Mending bikin sendiri saja untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau.

cromboloni kue kekinian

Apakah Pelaku UMKM Harus Ikut Trend Kuliner Kekinian?

Lalu bagaimana sebaiknya pelaku UMKM yang relatif terbatas modal dan target pasar, haruskah ikut trend? Bu Fatmah berpendapat boleh-boleh aja, tapi nggak usah 100% karena makanan viral gini grafiknya turun, “jadi sebaiknya nggak cuma satu macam ini doang yang dijual,” katanya.

“Makanan yang kita jual harus beragam dan jumlahnya harus seimbang. Usahakan grafiknya datar dan konsisten semua produk jualan seimbang, sehingga tidak sampai collapse ketika yang viral grafiknya penjualannya mulai turun,” tegas Bu Fatmah.

Ya, benar juga sih. Pelaku UMKM ini pasarnya beragam, dari kota sampai pelosok. Cromboloni termasuk camilan ala bakery, yang dari segi harga membuat orang nggak bisa beli makanan tersebut tiap hari. Nggak seperti kue-kue basah harga 2000-3000an yang tiap hari bisa dibeli, orang nggak akan beli cromboloni setiap hari. Jadi, oke-oke saja kalau kita ngikutin trend makanan viral tapi sikap kita harus kokoh dan percaya diri di bisnis makanan yang tidak satu menu saja dikuasai.

Inilah pentingnya diferensiasi produk dalam bisnis. Manfaatkan saja momen viralnya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Habis itu ya tetap jualan produk basic jangan sampai dihilangkan demi yang viral.

Bagaimana Dengan Investasi untuk Kuliner Kekinian?

Terkhusus pastry, kita membutuhkan teknologi dough sheeter, alatnya besar dan tingkat kesulitannya tinggi. Coba intip harganya, ini bisa 14-25 jutaan, jelas berat kalau buat UMKM sih…kudu jual motor Beat papa dulu cuma buat beli dough sheeter.

Nah, lalu bagaimana menyiasati supaya tidak over investasi untuk kue-kue yang viral ini? Kalau emang kita serius untuk mengunggulkan produk ini dan ada visi misi jangka panjangnya, ya tidak apa-apa adakan dough sheeter. Karena alat ini juga tidak cuma buat pastry tapi bisa juga buat adonan yang lain seperti menipiskan adonan donat biar kaya J.Co.

Hitung-hitungan dengan cermat dulu sebelum membeli peralatan.
Survey dulu apakah beneran akan serius, misal nantinya mau menyuplai kue ke kafe-kafe terdekat, atau buka kedai sendiri atau bagaimana?

Karena investasi cromboloni ini cukup mahal tetapi kita ingin menjajal peluangnya, jauh lebih baik manfaatkan supplier dari merek yang ada aja. Karena supplier juga akan mengutamakan untuk supply kita kalau sering pesan banyak. Kita juga mendapatkan kemudahan produk daripada bikin sendiri dengan peralatan yang mahal.

Mengukur Daya Beli Konsumen Kue Kekinian

Selain cromboloni, makanan dengan klaim lebih sehat juga sering viral.
Roti misalnya, roti sourdough sekarang jadi pilihan konsumen yang bergaya hidup sehat. Sejatinya roti sendiri juga memiliki berbagai metode; ada yang pakai sourdough, direct kneading, ragi instan, dan kita juga bisa kok pakai ragi instan langsung pakai untuk bikin roti premium.

Tapi kalau ada kebutuhan khusus misal ingin bikin yang sehat seperti sourdough, ya nggak apa-apa bisa aja kita belajar metode sourdough untuk produk unggulan. Roti itu sehat untuk orang yang sehat, jadi kalau ada kebutuhan tertentu ya sesuaikan degan kemampuan kita membuat dan pasar yang dituju.

Nah kalau misal makanan viralnya nggak match dgn jualan basic kita (misal jualan kue basah kok tiba-tiba jual cromboloni), lihat lagi ke daya beli masyarakat.

Misal konsumen sukanya makanan yang asal wareg, murah, dan besar, masyarakat ini butuh waktu untuk mengenal makanan-makanan baru, tidak mudah berubah sepeti di Jakarta. Nggak usah dipaksakan ada makanan trend, karena pasarnya belum kuat untuk memasarkan produk baru. Boleh aja sesekali disiapkan dicoba, tapi sesuaikan dengan daya beli masyarakat sekitar karena jualan kita harus lihat pasar sendiri.

Modifikasi Kue Viral Kekinian

Bagaimana dengan modifikasi kue kekinian? Seperti roti tawar yang digulung-gulung, dipoles dengan butter lalu digoreng, tapi disebut cromboloni? Apakah masih layak disebut cromboloni?

Ya, cromboloni sekarang sudah banyak varian kreasinya dari judul ini. Apa ada yang protes? Nggak ada dong, siapa yang berhak protes? Bisa saja kita kasih nama lain yang lebih otentik, crimbilmini misalnya. Tapi kreasi makanan itu memang nggak ada batasnya. Maka persepsi orang terhadap suatu nama makanan juga kadang berbeda-beda. Seperti halnya brownies kukus itu hanya kreasi orang Indonesia, karena orang luar negeri nggak kenal brownies yang dikukus.

Bu Fatmah juga bilang untuk tidak menyepelekan pengaruh para influencer. Mereka sejatinya nggak jualan, tapi mereka membantu kita jualan. Dampaknya cukup besar untuk menginformasikan produk apalagi yang baru-baru. Influencer bukan saingan atau musuh, tapi orang yang akan memberitahu Anda suatu produk baru.

Terakhir, berapa lama sih trend makanan ini bakal long last? Balik lagi basic sebuah makanan itu akan tergantung pada rasanya. Kalau enak pasti bisa lama dan bertahan seperti roti abon ada terus di bakery bakery sampai sekarang.

Rainbow cake juga lumayan lama populernya dan sampai sekarang banyak peminat. Tapi seperti pisang nugget gitu sebentar banget karena terlalu panjang prosesnya untuk mendapatkan produk pisang yang biasa-biasa aja.

So, perbincangan malam-malam dengan Bu Fatmah Bahalwan membuka insight tentang peluang usaha kue kekinian, dalam studi kasus cromboloni. Boleh banget para pengusaha UMKM ikut trend yang viral-viral, tapi jangan lupakan produk basic dan tidak terlena dengan lesatan omset tiba-tiba sehingga over investasi terhadap trend yang ada jangka waktunya tertentu.

Rencanakan, hitung, lakukan!

18 Comment

  1. Aku pertama kali dibawain Cromboloni cukup terpukau dengan penampilannya yang cantik.
    Aku suka mikir yaah, tipe-tipe jajanan seperti ini kudu inovasi dengan keras gak hanya bagian topping, tapi bisa jadi juga bentukannya yang entar berganti nama lagi, geura.. hehehe~

  2. Sebagai penikmat kue yang kadang penasaran dengan hype kue terbaru, aku tuh tarik ulur mau nyobain Cromboloni. Pada akhirnya aku bikin sendiri daripada antri-antri di toko kue kak, walaupun harus effort beli mentega korsvet tapi rasanya lebih puas aja kalau sudah mencoba bikin sendiri dengan modal nonton kreasi Cromboloni dari beberapa youtuber favorit. Kadang aku juga mikirin hype cromboloni ini sampai kapan sih, apakah awet atau cuma kagetan aja.

    1. Apa.aku yang kudet yaa baru tau cromboloni ketika membaca bl9g ini. Kebetulan memang bukan pemburu kuliner yang viral.
      Memang bener banget jangan fokus pada 1 produk yang sedang trend atau viral, tetap berupaya memproduksi yang lain.

  3. Aku belum pernah makan crombolini mbak. Dan sampai sekarang males cobain makanan yang lagi viral, apalagi kalau harus antri untuk memperolehnya. Rugi waktu dan tenaga buat nuruti rasa penasaran.
    Kalau pengen ya, ntar-ntar aja kalau udah agak reda euforianya

    1. Cromboloni sedemikian hitsnya ya sekarang. Dunia kuliner memang paling dinamis inovasinya dan banyak booming namun ttp harus punya jenis produk yv lonf lasting jg aih ya paati ada yg suka san repeat order..
      Ada ilmimua tersendiri ini ya utk bs jago marketingnya

  4. Emang boleh secromboloni ini?

    Haha jadi ingat promo kue cromboloni di simpang jalan yang belakangan sering kulalui. Eh tapi aku malah belum pernah nyicip cromboloni. gara2 baca ini jadi pengen coba deh.. Semoga bisnis FNB dr para UMKM bisa terus eksis dan melewati berbagai tantangan. UMKM itu penopang ekonomi bangsa juga kan.

  5. Setuju banget sama bu Fatmah, bener jangan terlena dengan kue kekinian. Sebelum ini ada croffle ya, terus sekarang cromboloni.

    Bener mesti siap untuk penjualan yang mungkin menurun kalau baru memulai kuliner kekinian gini.

    Kalau basicnya memang di sana dan memang akan produksi jangka panjang ya baru gapapa lah yaa ikut menghadirkan kue kekinian gitu

  6. Alat untuk membuat kue crombolini ini ternyata mehonk sekalii..
    Pantesan rasanya enak dan disambut hangat oleh para pecinta kue yaa… Kalau selain crombolini, mungkin bisa bikin varian kue lain. Hehhe, tetep ngerasa gak percaya kalau satu alat, satu kue.

  7. Nah iya, bener bangeet. Kalau mau jualan makanan harus juga menyesuaikan dengan daya beli masyarakat sekitar karena jualan kita harus lihat pasar sendiri. Jangan hanya ikut-kutan yang lagi hype aja, karena biasanya gak bertahan lama. Saya juga ngerasain banget tinggal di lingkungan yang masyarakatnya cari makanan yang asal wareg, murah, dan besar. Untuk makanan yang sedang ngetrend hanya nyicipin sekali-kali aja.

  8. Cromboloni yang lagi naik daun ya, aku juga sudah cobain ini waktu lagi ke coffee shop di mall. Pas banget ada paketan kopi yang bundling sama Cromboloni. Di tempat aku beli kemarin, topingnya tuh menarik banget dan isinya juga enak. Mana kalau difoto cakep bangetlah ini si cromoboloni

  9. Aku lho sampai sekarang belum nyobain Cromboloni. Tepatnya emang gak hobi makan-makan atau minuman viral. Dan karena aku stay di desa, buat UMKM yang mau coba makanan kekinian, ini PR sih apalagi kalau harganya mahal. Pasarnya emang beda sama kota besar

  10. Saya langsung kepikiran pengen beli oven, biar bisa bikin kue apapun…
    Selama ini kendala bikin kue karena alat. Nyicil dikit dikit tinggal oven nih yang belum ada
    Pengen coba bikin cromboloni juga

  11. aduh ini nih yang aku sama ankku pengen banget bikin. kayaknya agak tricky ya mak bikin pastry yang satu ini. atau beli pastry puff instant aja biar lebih praktis buat bikin si crombolini ini

  12. Jadi boleh aja ya, Mbak, mencoba sesuatu yang viral, tapi jangan mengorbankan produk-produk yang sebelumnya sudah ada. Syukur-syukur si produk viral ini bakal laris terus. Tapi kalau perlahan popularitasnya menurun dan mulai dilupakan oleh konsumen, kita nggak perlu memulai dari awal lagi karena memang basicnya sudah punya produk yang biasa dijual.

  13. Asyik ya belajar langsung dari ahlinya dan dapat banyak insight baru tentang bisnis makanan, aku belum sempat cicipi cromboloni karena pas ke Bogor, antreannya panjang mlipir deh hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *